|
Page 1 of 2 Semasa mudanya, hidup Karl May (25 Februari 1842 – 30 Maret 1912) begitu akrab dengan aksi pencurian dan penipuan serta ruang penjara. Namun, bayangan fantasi dalam benaknya teramat hebat, hingga mampu menciptakan tokoh jagoan semesta dalam buku petualangan yang bikin pembacanya fanatik dan mabuk kepayang. Kenal Old Shatterhand, Winnetou, Haji Halef Omar atau Kara Ben Nemsi? Kenalilah dulu sisi kehidupan Karl May dalam lembaran berikut ini.
“Menang, kemenangan besar ! Saya lihat semuanya cerah !” Itu konon kata-kata terakhir Karl Friedrich May, pencipta tokoh Old Shatterhand, Winnetou dan Kara Ben Nemsi itu, sebelum tutup usia pada umur 70. Saat itu dia terkapar dan mengigau di kamar tidur vila mewahnya di Radebeul dekat Dresden. Kalau mau dikatakan ada suatu kematian yang agung, mungkin itulah saat kematian Karl May pada 30 Maret 1912. Di ujung hari itu, Karl May seakan-akan tampil sebagai Mannitou yang Agung, dewa orang Indian ciptaannya yang berhak memindahkan roh dari jasad menuju hidup dalam keabadian.
Saat wafat, selain meninggalkan sejumlah kekayaan hasil karya kisah petualangannya, dia juga meninggalkan dua orang janda, seperangkat peralatan kerja yang lengkap, tiga senapan legendaris khas jagoan ciptaannya, serta 73 jilid karyanya yang kalau dideretkan mencapai panjang sekitar 2,5 m.
Namun bagi orang yang hidup sezamannya, Karl May juga meninggalkan berbagai pro dan kontra mengenai diri pribadinya. Untungnya, di tengah rasa benci dan antipati beberapa orang tertentu, masih ada seorang Bertha von Suttner yang menghargai pribadi May. “Dalam dirinya yang begitu kontroversial, sebenarnya juga berkobar api kebaikan”, kata Von Suttner, pemegang Hadiah Nobel untuk kebebasan itu. Bertha juga tercatat sebagai salah seorang dari 3.000-an hadirin dalam ceramah terakhir Karl May di Sophiensaal, hanya delapan hari sebelum kematian “bapaknya” Old Shatterhand itu. Kebetulan dalam ceramah itu hadir juga Adolf Hitler, hingga di saat Hitler menjadi tokoh adikuasa, dia pun ikut mengusulkan agar Karl May diakui secara nasional.
Hitlerpun kecanduan
Padahal di saat itu, nama Karl May hampir anjlok, terutama akibat pendapat tokoh penerbit dari Dresden, Rudolf Lebius, di mana Lebius menyerang dan mengatakan, “Karl May itu memang orang yang dilahirkan untuk menjadi bandit.” Pernyataan ini membawa dampak juga, hingga banyak tokoh dan pakar di Jerman amat sulit menggolongkan siapa sebenarnya Karl May, penulis produktif kelahiran Sachsen 150 tahun lalu ini. Apa May termasuk pembual atau sastrawan. Apakah dia itu pantas menjadi teladan bagi kaum muda, atau malah pemberi contoh buruk.
Lepas dari segala sisi kurang-lebihnya, Karl May itu harus diakui sebagai penulis yang luar biasa sukses. Buku-buku cetakannya, sementara ini di seluruh dunia diperkirakan sudah mencapai 100 juta lebih. Bahkan di Jerman sendiri, selama satu abad ini hampir tidak ada anak-anak Jerman yang tidak terpincut membaca kisah petualangan tokoh May, entah ke Kurdistan, ke padang garam Arab atau ke daerah prairi di Amerika Utara. Bahkan anak-anak itu hafal di luar kepala nama panjang tokoh paling kocak dalam cerita-cerita Karl May, misalnya Hadschi Halef Omar Ben Hadschi Abul Abbas Ibn Hadschi Dawud al Gossarah !
Khususnya kisah petualangan jagoan kelahiran Sachsen, Old Shatterhand bersama pasangannya Winnetou yang merambah padang prairi wild west yang penuh deru peluru, serta desing anak panah bercampur jotosan di sela tembakan senapan, ternyata tidak hanya memabukkan bocah sekolah menengah saja, namun juga mencandui beberapa budayawan besar. Misalnya Dramawan Carl Zuckmayer tak segan menyebut nama depan putrinya dengan panggilan Winnetou. Penggemar buku Karl May lainnya, ternyata mengagetkan sekali. Beberapa sumber menyatakan kalau Albert Einstein, Hermann Hesse, Karl Liebkneckt, Albert Schweitzer, Adolf Hitler dan lainnya adalah pecandu berat buku karya May.
Hasil penyelidikan terakhir terhadap kisah kehidupan dan karya Karl May, telah dilakukan oleh Hamburger Verlag Hoffmann dan Campe, berupa sebuah buku berjudul Swallow, Kuda Liar yang Setia setebal 420 halaman, tulisan Erich Loest (Leipzig). Buku itu menceritakan kisah asal-muasal melambungnya Karl May, dari seorang narapidana menjadi penulis yang sangat terkenal serta amat dipuja kaum muda Jerman.
Dalam buku itu, Loest menyitir kembali buku dan surat-surat Karl May, akte kepolisian, protokol pemeriksaan dan berita-berita pengadilan. Sebagian dari dokumen itu diterbitkan dalam Der Groesse Karl May Bildband. Di sini terlihat betapa dunia kanak-kanak May begitu muram dan suram, amat berbeda dengan kecerahan kisah petualangannya di prairi ataupun padang pasir.
Mulai mencuri dan menipu
Di Ernsthal, sebuah daerah kumuh dan miskin di dekat Chemnitz (sekarang Kota Karl-Marx), Karl Friedrich May lahir pada 25 Februari 1842, pukul 20.00, sebagai anak kelima dari 14 bersaudara. Ibunya, Christiane Wilhelmine Weise, seorang bidan, di usia antara 19 – 43 tahun disibukkan dengan melahirkan anak-anak hasil perkawinannya dengan seorang penenun, Heinrich August May. Sembilan di antara ke-14 anak mereka itu meninggal dalam usia kanak-kanaknya. Hanya Karl dan dua saudara perempuannya yang berhasil bertahan hidup hingga usia dewasa.
Di kota berpenduduk tak sampai 3.000 jiwa yang sebagian besar hidup dari menenun, di awal abad ke-19 itu keadaannya terus makin memburuk. Tak heran bila mata pencaharian “sampingan” akhirnya juga tidak bisa dihindari, seperti menyelundup dll. Penyakit kurang gizi pun merajalela, serta amat menentukan mati-hidupnya seseorang pada waktu itu.
Dalam keadaan hidup yang serba kekurangan itulah, Karl May sempat terserang buta di awal kehidupannya sebagai anak kecil. Untung sekali, Karl kecil sembuh dan dapat melihat kembali ketika berumur sekitar 5 tahun. Tapi tubuhnya tetap kekurangan gizi, sehingga Karl pun tumbuh menjadi anak yang lemah. Di sekitar usia enam tahun, Karl yang berbadan lemah belum sanggup berdiri, apalagi berjalan. Namun, di dalam keadaan hidup dan tubuh yang boleh dikata tak berdaya itu, kiranya justru semakin mengeraskan semangat hidup, serta mengobarkan lidah api perjuangan dalam dirinya.
Saat Karl masih kecil, biasanya setiap pulang sekolah, sering mampir di sebuah warung. Biasanya dia langsung menuju ke suatu pojok kedai itu, karena di sana ada sebuah meja dan di atasnya selalu tersedia sebuah buku cerita tua dengan gambar-gambar lusuh. Buku ini mengisahkan dongeng menegangkan tentang kepala perampok Rinaldo Rinaldini. Di sinilah Karl mulai mengenal dan tergila-gila dengan cerita-cerita khayalan yang menegangkan, khususnya kehadiran seorang tokoh kepala perampok yang begitu “mengagumkan”. Mungkin karena pribadi perampok itu begitu dermawan, dia selalu merampok orang kaya, kemudian harta jarahannya selalu dibagi-bagikan kepada orang miskin.
Selain Karl May sejak kecil sudah keranjingan membaca buku petualangan, juga prestasinya di sekolah cukup baik. Misalnya untuk pelajaran berhitung, Karl selalu unggul sekali melumat angka-angka, hingga tak seorang teman sekelasnya pun mampu menandingi keenceran otak Karl dalam soal ini.
Pada usia akil balik ke-14 tahunnya, tahu-tahu ada seorang bangsawan Jerman tertarik pada kepintaran Karl, lalu dia bersedia menyandang dana untuk Karl agar meneruskan pendidikan di sebuah sekolah guru di Waldenburg. Di sana Karl dengan leluasa mendalami pelajaran berhitung, ilmu bumi, sejarah dan sedikit bahasa Latin, kesenian Jerman, bahkan belajar piano dan orgel. Di sekolah itu juga, Karl ditugasi mengurus alat-alat penerangan, termasuk persediaan lilin.
Dua tahun kemudian, Karl sebagai penanggung jawab alat penerangan ruang asrama, tertangkap oleh rekan seasramanya. Karl ketahuan mencuri enam buah lilin ! Batangan lilin itu terbukti ada di dalam kopernya. Namun Karl berkelit, dia sama sekali tidak merasa kelakuannya itu suatu kesalahan. Prinsip pengambilan lilin itu demi suatu tujuan yang baik, yakni untuk diberikan kepada orang tua serta saudara perempuannya agar menjadi cahaya penerang di malam Natal !
Perbuatannya itu tetap dianggap kesalahan. Karl May pun dikeluarkan dari sekolah di Waldenburg, lalu dipindahkan ke Plauen. Di sekolah baru ini, Karl berhasil menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh pekerjaan sebagai guru pembantu pada suatu sekolah anak-anak miskin. Tapi jabatan ini hanya berlangsung 14 hari saja. Di sana, Karl bikin ulah lagi. Penyewa kamar menuduhnya selalu bersikap tidak sopan, serta sering kali berbohong pada nyonya rumah. Reputasi buruk ini mengakibatkan Karl tidak bisa menjadi pengajar di sekolah pemerintah.
Akhirnya si guru muda yang masih mentah pengalamannya ini, diterima bekerja di sebuah sekolah dasar di kawasan pabrik Sobrig dan Claus di Alt-Chemnitz. Ruang kelas sekolah itu amat kacau balau, maklum saja karena semua muridnya anak-anak buruh pabrik. Di saat memasuki hari libur Natal pertama, lagi-lagi Karl May dituduh mencuri jam saku milik teman sekamarnya. Kali ini Karl ditahan polisi. Walaupun dia memberikan alasan hanya meminjam jam tangan itu, namun hakim di ruang sidang tetap mengetokkan palu dengan vonis hukuman bui selama enam minggu.
Dokter dan polisi gadungan
Peristiwa ini benar-benar memukul nuraninya. Rasa ini terbaca dalam kata-katanya : “ …..peristiwa ini benar-benar macam pukulan keras di kepala, serta hampir saja menghancurkan diri sendiri ………walau demikian saya berusaha untuk tegak kembali, itu pun hanya yang tampak di luar saja, sedangkan dalam diri sendiri, saya merasa tetap bagai terbaring dan terbius, sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ……..Saya memang sakit jiwa tapi tidak sakit pikiran ……….”
Setelah dibebaskan, Karl pun kembali ke rumah orang tuanya di Ernsthal. Selama itu dia pun menganggur, tak ada lowongan pekerjaan baginya. Lebih sial lagi pada 20 Juni 1863, nama Karl May sebagai calon pegawai negeri dicoret, sedangkan ijazahnya pun dibekukan. Itu berarti, kalau ingin mengulang profesinya sebagai pengajar, dia harus mulai dan menapak lagi dari nol.
Terpuruk di pojok kesialan serta terjerembab di lubang pengangguran, Karl May mulai beraksi lagi. Dia menggunakan keenceran pikirannya untuk membaca situasi, lalu mulailah dia melakukan pencurian kecil-kecilan dan menipu enteng-entengan. Misalnya Karl mengaku kepada seorang pemilik pabrik cuka, kalau dirinya itu bergelar Dr. Med. Heilig, serta mantan dokter mata militer dari Rochlitz. Kemudian Karl menyewa kamar, setelah itu – sekitar dua jam kemudian – Karl sudah memesan sebuah mantel bulu dari sebuah toko mantel dengan alamat barunya. Tak lama datanglah kiriman mantel itu. Sementara kurir pembawa mantel masih menunggui pembayarannya di muka rumah tumpangannya, Karl sudah minggat dengan mantel bulu itu lewat pintu belakang, kemudian raib bersama kereta api menuju Leipzig.
Tak lama kemudian, di Thomaskirchhof 12 hadirlah seorang pemuda berbadan kecil, yang mengaku sebagai ahli tata buku dan berniat menyewa sebuah rumah di sana. Tak sampai beberapa hari, pemuda yang ternyata Karl May itu sudah berulah dengan modus operandi serupa, yakni memesan barang mewah dan langsung raib bersama barang pesanannya, tanpa bayaran sama sekali. Induk semang di alamat baru Karl itu, kontan mengadukannya ke polisi dan sial sekali Karl kali ini tertangkap.
Untuk praktek penipuannya itu, Karl harus mendekam di kamar bui Lembaga Pemasyarakatan Osterstein, Zwickau, selama empat tahun (sampai 1868)! Namun, pemuda Karl ini tidak juga kapok untuk menipu. Pengalaman di penjara tidak membuatnya jera, malah sepertinya ada semacam dorongan kuat dalam dirinya serta keinginan keras untuk “membalas dendam”. Hal ini terbukti !
Baru saja lima bulan menghirup udara bebas, Karl May malah makin nekat dan mengaku dirinya sebagai letnan polisi. Dia mendatangi seorang pemilik toko kecil di Wiederau, lalu dengan sikap tegas dan suara amat meyakinkan, Karl menyatakan mensinyalir adanya uang kertas palsu yang beredar di toko itu. Lalu dengan sigap “Letnan” May ini menemukan selembar uang yang dibilang uang palsu. Untuk itu, polisi tetiron ini meminta agar si pemilik toko menyerahkan semua uang kertas dalam lacinya, guna diperiksa lebih lanjut. Kemudian Karl merasa uang sitaan itu terlalu sedikit, dia pun lalu “menyita” sebuah jam silinder bersepuh emas dari toko itu, dengan alasan jam silinder itu pun sebagai barang curian.
Untuk meyakinkan pemilik toko, sang polisi palsu ini mengajaknya bersama-sama pergi ke kantor polisi. Tapi di tengah jalan, si pemilik uang “palsu” itu ditinggalkan sejenak. Tak lama, uang dan jam itu pun tidak pernah kembali, karena sang “letnan polisi” juga tidak pernah lagi terlihat lagi batang hidungnya.
Barang pendeta pun disikat
Merasa begitu mudahnya mengelabui orang, apalagi kalau dirinya tampil atau berperan sebagai petugas, maka Karl pun makin ketagihan untuk menipu dan menipu lagi, sebab inilah jalan pintas memperoleh banyak pengahasilan dengan hanya sedikit pengorbanan.
Pada bulan April 1869 (ketika berumur 27 tahun), Karl beroperasi lagi dan lagi-lagi menyaru sebagai polisi rahasia. Kali ini dia mendatangi seorang penjual alat-alat rumah tangga, lalu dengan keras menginstruksikan kalau dirinya sedang dalam tugas istimewa dan harus memeriksa uang kontan yang ada di sana. Karl pun dengan semena-mena menyita sebagian uang yang diperlihatkan pemiliknya dengan kilah sebagai barang bukti, kalau orang itu menyimpan dan mengedarkan uang palsu. Kepada pemilik uang “palsu”, Karl memerintahkan agar ikut dengannya ke kantor polisi terdekat, tapi di tengah perjalanan, Karl mengaku sakit perut dan permisi mencari WC umum. Sayangnya, sang pemilik terus menguntit sang “polisi rahasia”, sampai di muka pintu WC. Karl mulai kelabakan, tapi otak penipunya segera mengeluarkan suara ancaman, kalau si pemilik uang masih terus menguntitnya, maka Karl tak segan-segan menembaknya dengan senjata api. Gertakan ini manjur juga, sang pemilik uang menanti Karl di tempat agak jauh, sedangkan “polisi rahasia” yang sedang buang hajat besar itu pun kabur dan lenyap berikut uang sitaannya.
Berita penipuan ini cepat tersebar, malah wajah si penipu yang bertubuh tidak besar dengan janggut tipis kecoklatan dan rambut gondrong coklat di bawah topi lebar berwarna coklat, disiarkan dari mulut ke mulut. Maka ketika Karl “Penipu” May pada bulan April 1869 pulang ke rumahnya di Ernsthal, berita itu sudah sampai di kampung halamannya. Karl pun buru-buru hengkang dari rumah dan tetangganya. Dia melarikan diri ke Schwarzenberg, Bremen, dan kembali ke Sachsen. Namun pada bulan Mei, tahu-tahu dia muncul lagi di Ernsthal. Karl bukan mengetuk pintu rumah orang tuanya, tapi menuju rumah Pendeta Weisspflog.
Setelah basa-basi dan menjual cerita sedih, Karl dengan tega menyikat sebuah mobil mainan anak-anak, satu kap lampu, kacamata Pak Pendeta, sebuah tas kerja dan dua dompet. Namun aksi pencurian ini kurang sukses, sebab saat Karl sudah berhasil mencuri seekor kuda keluar dari kandangnya, lalu menuntun kuda curian milik pemilik kedai makanan dengan tenang, tahu-tahu pemilik kuda itu memergokinya justru di saat Karl May mau melego kuda itu ke tukang jagal !
Tercatat pada 2 Juni 1869, pukul 03.00, Karl tertangkap di Hohenstein dan dengan tangan terborgol ia dijebloskan petugas hukum ke Penjara di Wiederau, lalu dipindahkan lagi ke Werdau. Tak lama, terpidana Karl pun dipindahkan ke Penjara Muelsen St. Jacob. Di penjara inilah Karl dengan otak dan ototnya, berhasil melarikan diri dan lagi-lagi raib.
Pada 4 Januari 1870 masuk berita lagi, kalau seorang pencuri dikenal tertangkap di Algersdorf. Orang itu bernama Albin Wadenbach berasal dari Orby, Martinique, mengaku memiliki tanah pertanian warisan ayahnya, serta mengaku masih berkeluarga dengan beberapa nama terkenal di daerah itu. Akhirnya polisi Dresden meluruskan informasi ini, serta menerangkan kalau Albin Wadenbach dari Orby itu identik dengan mantan guru sekolah dan seorang penjahat berbahaya yang harus ditangkap dan aslinya bernama Karl Friedrich May !
Menciptakan Winnetou
Untuk sederetan kejahatan yang dilakukannya, Karl dijatuhi hukuman empat tahun di penjara kelas berat Waldheim (1870 – 1874). Empat tahun di Penjara Waldheim merupakan masa paling suram dalam hidup May. Mungkin untuk melewatkan waktu panjang di ruang berjeruji, Karl mengembangkan fantasinya, lalu benaknya kini subur dengan segala imajinasi obsesi tentang heroisme. Kepribadiannya kian aneh, sikap memberontak pada lingkungannya, makin mengembangkan daya imajinasi yang tak mungkin dihentikan lagi. Terhadap sesama narapidana, bahkan pada hakim yang mengadilinya pun, Karl sering membual dan bercerita hebat tentang masa lalunya, kalau dirinya itu seorang jagoan kelas kakap. Sebagai contoh, katanya, dia pernah melarikan diri dari Penjara Prags yang terkenal bersistem penjagaan paling keras dan ketat, dengan menyandera seorang sipir bui, lalu kabur dengan mengendarai kuda yang congklang berlari cepat.
Pada suatu malam di dalam selnya, Karl May, si narapidana no. 402 itu, untuk pertama kalinya bermimpi menjelajahi daerah Indian dengan mengendarai Swallow, kuda jantan hebat milik Old Shatterhand. Mimpi ini dikisahkan ke rekan napi lainnya. Karl sendiri lama-kelamaan makin terkenal sebagai napi bernomor 402 yang setengah gila dan amat suka berkhayal. Untung seorang penasihat rohani penjara, segera mendatangi dan menganjurkan agar segala lamunan plus bualannya itu, terutama tentang mustang bernama Swallow dan penunggangnya – si jago bertinju besi Old Shatterhand – supaya dikisahkan melalui tulisan tangan saja. Rupanya, nasihat ini amat mujarab.
Seketika itu juga, Karl May menemukan saat paling bahagianya, yakni saat menulis segala fantasi dan imajinasinya di ruangan penjara yang serba dijaga ketat. Tangannya kian lincah menerjemahkan ide yang meletup di benaknya, pikirannya kian menerawang jauh menembus waktu dan tempat. Dari penjara yang pengap dan hidup sebagai napi yang serba keras, si bandit bernomor induk napi 402 mulai melahirkan tokoh jagoan tiada tara yang nanti menaklukkan jutaan pembacanya.
Dia serta merta menghasilkan dua kerangka kisah panjang dengan sekitar 200 judul catatan. Karya napi ini rupanya sempat terbaca keluar, hingga memincut minat dan intuisi bisnis seorang penerbit dari Dresden, Heinrich Gotthold Muenchmeyer. Lamunan Karl May dan impian bisnis Muenchmeyer, akhirnya terwujud dalam kerja sama nyata setelah si napi 402 ini 10 bulan keluar dari Penjara Waldheim. Muenchmeyer tiba-tiba muncul di Ernsthal, merayu May dengan segala janji muluk keuntungan apabila dia diberi hak menerbitkan segala karya May.
Untuk awalnya, terciptalah sebuah novel panjang, Wanda. Mulai saat itu pun Karl diangkat menjadi redaktur penerbitan. Untuk lebih dekat dan serius, May kemudian pindah ke Dresden. Tapi baru seminggu berada di Dresden, kepolisian Leipzig memerintahkan agar selama dua tahun, penipu dan pencuri kelas berat ini harus tetap berada di bawah pengawasan polisi. Jadi setiap hari Karl harus melapor ke polisi piket, serta diharuskan juga melapor kembali ke Ernsthal. Keadaan ini membuat Karl cukup sedih, seperti yang tercermin dalam tulisannya ini : “…. Baru saja saya memperoleh kepercayaan dari atasan saya, serta baru saja tumbuh rasa kepercayaan diri dan harapan untuk hidup lebih baik, di mana saya berusaha memperbaiki seluruh kesalahan hidup di masa lalu, juga menumbuhkan rasa ingin maju. Namun di saat itu pula, saya tahu kalau dosa dan kesalahan saya begitu berat dan besar, sehingga amat mempengaruhi seluruh jalan hidup saya yang berada di simpang depan …..”
Biarpun begitu, Karl dengan tertib menyetor tulisannya untuk Muenchmeyer, juga ke beberapa kantor penerbit surat kabar lain. Tulisan perdananya, memuat kisah berkisar tentang negara-negara asing dan penduduknya, tentunya termasuk perampok berkuda yang dermawan !
Dalam Majalah Familienblatt, setelah dua tulisan perihal petualangan seorang tokoh bernama Old Firehand, Karl kemudian untuk pertama kalinya menuliskan kisah tokoh besar bernama Winnetou, si putra Apache yang trengginas dan pintar sebagai anak alam tanah Amerika. Kisah itu begitu hidup, Karl May mampu menuturkan segala kejadiannya begitu hidup, seakan-akan menulis kepribadiannya dan pengalaman hidupnya sendiri. Oktober 1875, itulah bulan yang menjadi tonggak nyata, bukan hanya bagi May, tapi juga bagi jutaan pembaca Jerman ! Sebuah mitologi baru telah lahir, seekor kuda Pegasus yang luar biasa tampil untuk pertama kalinya, yakni Swallow si kuda mustang – tunggangan jagoan tangguh bersenapan galak bernama Old Shatterhand, yang nanti menjadi saudara sedarahnya Winnetou.
|