Karl May Membuat Saya Kesepian - (Bondan Winarno)  E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 18 December 2003
Guru memang bisa menjadi mold (acuan pencetak) bagi murid-muridnya. Saya iri membaca tulisan Pak Emil di situs ini, tentang bagaimana gurunya mempegaruhi murid-muridnya agar gemar membaca dan mencintai alam raya ciptaan Tuhan. Saya menjalani tahun pertama Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah dasar) di Padang. Seorang guru, Engku Said, sebagaimana layaknya orang Minangkabau yang artikulatif, sangat pintar bercerita. Ia bagai Scheherazade. Bila sudah duduk di ujung meja untuk bercerita, semua murid menangkupkan tangan di meja, dan mendengar dengan penuh perhatian.

Bila cerita Engku Said menyeramkan, saya sulit tidur pada malam hari. Cerita Engku Said ternyata tidak berakhir ketika lonceng tanda usai sekolah ditalu. Kami semua membawa cerita itu pulang. Menghayati cerita itu. Bahkan mengembangkan cerita itu berdasar imaginasi masing-masing.

Mungkin karena pada masa itu buku masih sangat langka, kebiasaan Engku Said malah membuat kami menjadi bagian dari listening society. Kami tidak beranjak menjadi bagian dari reading society, karena Engku Said yang membaca dan kami tinggal mendengar ceritanya yang sungguh mengasyikkan.

Ketika kemudian kami pindah ke Semarang, Ayah sering mengajak saya melihat-lihat buku di Toko Buku Van Dorp di Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). Ayah jarang membeli buku, karena sebagai pegawai negeri gajinya tidak cukup untuk berbelanja buku. Karena saya terlalu sering membuka buku yang sama – terjemahan fabel Jean de la Fointaine – maka Ayah akhirnya membeli buku itu dan menghadiahkannya untuk saya.

Keakraban dengan buku mulai terjadi ketika saya duduk di SMP. Di halaman SMA Negeri III, sekitar 200 meter dari sekolah saya, ada sebuah Perpustakaan Negara. Ayah masih memakai referensi “bibliotik” untuk menyebut perpustakaan itu. Saya mendaftar sebagai anggota dan mulai meminjam buku. Buku yang paling populer ketika itu adalah buku-buku karangan Karl May. Karena itu, buku pertama yang saya pinjam – tentu saja – adalah buku karangan Karl May.

Sayangnya, justru ketika saya mulai bersekolah di SMA, dan kebetulan di SMA Negeri III, saya malah “takut” masuk ke perpustakaan. Pertama, karena teman-teman mengolok-olok saya sebagai “kutu buku”. Itu tentu merupakan tuduhan yang mengerikan. Peer pressure bukanlah masalah para siswa di masa sekarang, tetapi juga di masa saya. Saya ingin belong dengan mainstream teman sekelas, dan tidak ingin mempunyai kebiasaan “aneh-aneh” yang membuat saya terkucil dari pergaulan.

Alasan kedua saya “takut” ke perpustakaan adalah karena sisi-sisi tersembunyi gedung perpustakaan itu ternyata telah menjadi tempat rendezvous bagi teman-teman yang sudah mulai ingin mengekspresikan perasaan cinta mereka dengan bersembunyi di sana.

Alhasil, saya “bercerai” dengan Karl May. Masa sabatikal yang sungguh memilukan. Hanya bila liburan sekolah – seperti libur Ramadhan – saya baru berani menyelinap ke perpustakaan untuk meminjam buku Karl May.

Tidak heran bila dalam kultur semacam itu saya tidak punya like-minded friends yang bisa diajak bicara tentang Old Shatterhand atau Winnetou. Saya tidak punya teman untuk menghidupkan fantasi kehidupan suku Indian. Kisah Pak Emil yang memanggang daging semur di hutan membuat saya meneteskan airmata – karena pengalaman indah seperti itu tidak saya alami. Sebagai seorang yang aktif di kepanduan (dan kemudian kepramukaan!) saya akrab dengan kehidupan di alam terbuka. Tetapi, menghidupkan fantasi Winnetou tidak pernah bisa saya bangkitkan di kalangan teman-teman. Saya menjadi kesepian di tengah kegembiraan api unggun.

Tuhan agaknya memanjakan saya. Pada usia 16 tahun, saya terpilih menjadi Pemuka Regu Indonesia ke Jambore Dunia di Farragut State Park, Idaho, pada Agustus 1967. Saya termangu ketika melihat begitu banyak totem di sana. Tanpa malu, saya peluk totem yang paling dekat dengan saya. Saya lupa apakah saya menangis atau tertawa-tawa kegirangan ketika itu. Yang saya ingat persis adalah bahwa saya berteriak-teriak: “Winnetou! Winnetou!”

Akhirnya, saya menyentuh sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya bisa saya bayangkan. Taman Nasional Farragut memang merupakan bagian yang dihuni suku-suku Indian (native American). Acara-acara Jambore itu juga membuat saya menghidupkan khayal tentang Winnetou. Misalnya, kegiatan api unggun di malam hari disebut pow wow – sekalipun tidak ada pipa perdamaian diedarkan.

Ketika menjadi Public Relations Director di Anjungan Indonesia pada Expo 1986 di Vancouver, saya sempat mengunjungi anjungan General Motors. Di arena, setiap dua jam dipertunjukkan satu acara yang sangat menarik. Seorang Indian menyeret kano ke dalam danau, lalu mengayuhnya. Dengan bantuan teknik holografi, ditampilkan seolah-olah dengan sekali kayuh ia telah mencapai satu titik tujuan yang penuh kebahagiaan. Pertunjukan ini memang mengikuti mitologi Indian. Konon, di masa lalu, dengan mengisap asap dari satu jenis tumbuhan yang dikeringkan dan dikeringkan, orang Indian cukup menutup matanya dan mengatakan dalam hati ke mana ia hendak pergi. Dan ke sanalah ia akan tiba. Itu pulalah yang menjadi visi General Motors. Di masa depan, orang yang naik mobil General Motors mungkin tidak perlu beli bensin dan lelah mengemudi untuk bisa mencapai titik tujuannya.

Senyampang mendekati Thanksgiving Day yang di Amerika Serikat dirayakan pada hari Kamis terakhir bulan November, saya juga ingin mengingatkan bahwa tradisi ini juga berasal dari tradisi Indian. Para misionaris yang melakukan outreach terhadap suku-suku Indian rupanya tertarik dengan Corn Dance yang dilakukan kaum Indian pada saat mulai menanam jagung dan mohon izin Tuhan agar panennya nanti akan berhasil. Bagi kaum Indian, menari adalah ritual, bukan hiburan (entertainment).

Pada beberapa keluarga Amerika, hingga sekarang seorang ibu akan membagi bulir-bulir jagung mentah kepada semua yang hadir pada makan malam Thanksgiving. Bulir jagung itu dibagikan sebelum berdoa bersama yang didahului dengan meditasi senyap agar masing-masing dapat mengucapkan terima kasihnya dan mohon berkah untuk hari-hari berikutnya.

Sungguh, masih banyak lagi kearifan yang dapat kita pelajari dari saudara-saudara kita suku Indian. Mari bergabung dalam situs para sahabat perdamaian ini agar kita dapat berkontribusi semampu masing-masing untuk menciptakan perdamaian dunia yang kita dambakan.

Kapan-kapan kita bisa ber-pow wow juga, ‘kan?

Bintaro, 7 Oktober 2000
Comments
Search
early  - kesepian ya?:)     |125.164.129.xxx |2008-07-21 14:28:56
Aduh Pak Bondan..ternyata tanpa pernah kesepian tanpa Karl May ya? saya juga
ngiler berat dengan petualang itu, yang membuat jiwa petualangan saya terus
menggelegak, howgh!
changlidi   |202.158.20.xxx |2008-07-25 13:22:24
uf..uf..! beruntunglah saya yg cuek banget dg apa kata orang, jadi tetap membaca
buku2 tua, coklat n bau itu di perpus daerah, walo gak ada satu pun teman yg
ikut baca. howgh!
Muhamad Anton  - Salam Perdamaian   |202.182.185.xxx |2008-07-29 12:34:38
Pak Bondan, orang-orang terdahulu telah banyak mengajarkan/Guru kita tentang
menjaga keseimbangan alam dan kasih kesemua mahkluk dan tentu DR.Karl May salah
satu Guru yang terbaik.
Salam Perdamaian....
Tabroni  - Salam petualangan     |202.6.234.xxx |2008-09-10 07:06:28
Wah..perasaan itu pernah saya alami. berarti kita tidak sendirian ya, pak.
Memang sulit mengajak teman ikut menikmati petualangan imaji ala May. Saat SMA
hanya 1-2 teman yang mau. Apa lagi sekarang setelah saya jadi guru SMA, diajak
mencintai lingkungan, murid malah tampak "kebingungan".Tapi saya tetap
tularkan jiwa merambah alam kepada anak saya, walau hanya di kampung nenek saya
sekitar Cikarang. Salam petualangan.
etap   |125.167.126.xxx |2008-09-12 21:45:06
saya penggemar baru karl may, kebetulan nemu bukunya di tempat sampah. saya
senang sekali membacanya. ada ga yang punya buku - buku karl may yang udah mo
dibuang, kasih ke saya ya. thanks howgh!!!!!!
miel_Violet   |125.164.236.xxx |2009-01-15 11:11:16
saya juga penggemar baru karl may..
cma pnah baca winnetou I mpe III
duank..
pngen baca winnetou IV..
pii gag daa..
hikz,,
Amekae   |125.167.98.xxx |2009-03-09 12:52:41
Yah Pak Bondan. Pengalaman kita mirip2. Di SD saya juga punya guru yang pintar
ceritera, tapi ceritera yang diambil dari Kitab Suci Agama Kristen. Nama guruk
Bapak Blas Doy (alm). Dia mampu menirukan suara berbagai tokoh dalam Kitab Suci.
Saya juga baca Karl May di SMP. Maklum saya SD dikampung, yang ada buku bacaan
hanya di sekolah. Itupun hanya buku pelajaran. Saya juga anggota pramuka, suka
ikut acara cari jejak dan api unggun tetapi tidak seberuntung Pak Bondan ikut
jambore di luar negeri. Saya juga mau sumbang tulisan seperti Pak Bondan dan Pak
Emil, gimana yah. Soalnya baru bergabung nih
Mithra2211  - Petualangan Kara Ben Nemsi: hebat!   |125.166.31.xxx |2009-06-27 13:04:19
Saya baru saja bergabung dengan Site ini, dan membaca pengalaman Bapak Bondan
Winarno - hampir 6 tahun setelah beliau menulisnya! Boleh dikatakan saya
beruntung sekali, karena saya a.l. memiliki seluruh serie "Kara Ben
Nemsi", yang mengisahkan petualangan Old Shatterhand di negara-negara Timur
Tengah. Buku-buku itu dalam Bahasa Belanda, hard-cover, terbitan H.J.W. Becht
Nederland sebelum 1950, dan diterjemahkan dengan indah sekali dari bahasa
aslinya. Sepertinya serie buku ini belum diterjemahkan seluruhnya ke dalam
Bahasa Indonesia, ya? Bila saya keliru, saya mohon maaf! Menurut saya, terutama
kedua buku "Di Daerah Kaum Skipetar" dan "Karanirwan Khan di
Albania" sangat mengesankan, dan menceriterakan mengenai perkelahian
mati-matian antara Kara Ben Nemsi dan kedua Aladschi bersaudara; bagaimana Osko
dan Omar membalas dendam; dan kisah mengharukan tentang Rih, kuda kesayangan
Kara Ben Nemsi dan Hadsc...
Only registered users can write comments!

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >