Login Form
Who's Online
We have 4 guests onlinePopular
Statistics
Visitors: 475047| Karl May Membuat Saya Kesepian - (Bondan Winarno) |
| Written by Administrator | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Thursday, 18 December 2003 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Guru memang bisa menjadi mold (acuan pencetak) bagi murid-muridnya. Saya iri membaca tulisan Pak Emil di situs ini, tentang bagaimana gurunya mempegaruhi murid-muridnya agar gemar membaca dan mencintai alam raya ciptaan Tuhan.
Saya menjalani tahun pertama Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah dasar) di Padang. Seorang guru, Engku Said, sebagaimana layaknya orang Minangkabau yang artikulatif, sangat pintar bercerita. Ia bagai Scheherazade. Bila sudah duduk di ujung meja untuk bercerita, semua murid menangkupkan tangan di meja, dan mendengar dengan penuh perhatian. Bila cerita Engku Said menyeramkan, saya sulit tidur pada malam hari. Cerita Engku Said ternyata tidak berakhir ketika lonceng tanda usai sekolah ditalu. Kami semua membawa cerita itu pulang. Menghayati cerita itu. Bahkan mengembangkan cerita itu berdasar imaginasi masing-masing. Mungkin karena pada masa itu buku masih sangat langka, kebiasaan Engku Said malah membuat kami menjadi bagian dari listening society. Kami tidak beranjak menjadi bagian dari reading society, karena Engku Said yang membaca dan kami tinggal mendengar ceritanya yang sungguh mengasyikkan. Ketika kemudian kami pindah ke Semarang, Ayah sering mengajak saya melihat-lihat buku di Toko Buku Van Dorp di Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). Ayah jarang membeli buku, karena sebagai pegawai negeri gajinya tidak cukup untuk berbelanja buku. Karena saya terlalu sering membuka buku yang sama – terjemahan fabel Jean de la Fointaine – maka Ayah akhirnya membeli buku itu dan menghadiahkannya untuk saya. Keakraban dengan buku mulai terjadi ketika saya duduk di SMP. Di halaman SMA Negeri III, sekitar 200 meter dari sekolah saya, ada sebuah Perpustakaan Negara. Ayah masih memakai referensi “bibliotik” untuk menyebut perpustakaan itu. Saya mendaftar sebagai anggota dan mulai meminjam buku. Buku yang paling populer ketika itu adalah buku-buku karangan Karl May. Karena itu, buku pertama yang saya pinjam – tentu saja – adalah buku karangan Karl May. Sayangnya, justru ketika saya mulai bersekolah di SMA, dan kebetulan di SMA Negeri III, saya malah “takut” masuk ke perpustakaan. Pertama, karena teman-teman mengolok-olok saya sebagai “kutu buku”. Itu tentu merupakan tuduhan yang mengerikan. Peer pressure bukanlah masalah para siswa di masa sekarang, tetapi juga di masa saya. Saya ingin belong dengan mainstream teman sekelas, dan tidak ingin mempunyai kebiasaan “aneh-aneh” yang membuat saya terkucil dari pergaulan. Alasan kedua saya “takut” ke perpustakaan adalah karena sisi-sisi tersembunyi gedung perpustakaan itu ternyata telah menjadi tempat rendezvous bagi teman-teman yang sudah mulai ingin mengekspresikan perasaan cinta mereka dengan bersembunyi di sana. Alhasil, saya “bercerai” dengan Karl May. Masa sabatikal yang sungguh memilukan. Hanya bila liburan sekolah – seperti libur Ramadhan – saya baru berani menyelinap ke perpustakaan untuk meminjam buku Karl May. Tidak heran bila dalam kultur semacam itu saya tidak punya like-minded friends yang bisa diajak bicara tentang Old Shatterhand atau Winnetou. Saya tidak punya teman untuk menghidupkan fantasi kehidupan suku Indian. Kisah Pak Emil yang memanggang daging semur di hutan membuat saya meneteskan airmata – karena pengalaman indah seperti itu tidak saya alami. Sebagai seorang yang aktif di kepanduan (dan kemudian kepramukaan!) saya akrab dengan kehidupan di alam terbuka. Tetapi, menghidupkan fantasi Winnetou tidak pernah bisa saya bangkitkan di kalangan teman-teman. Saya menjadi kesepian di tengah kegembiraan api unggun. Tuhan agaknya memanjakan saya. Pada usia 16 tahun, saya terpilih menjadi Pemuka Regu Indonesia ke Jambore Dunia di Farragut State Park, Idaho, pada Agustus 1967. Saya termangu ketika melihat begitu banyak totem di sana. Tanpa malu, saya peluk totem yang paling dekat dengan saya. Saya lupa apakah saya menangis atau tertawa-tawa kegirangan ketika itu. Yang saya ingat persis adalah bahwa saya berteriak-teriak: “Winnetou! Winnetou!” Akhirnya, saya menyentuh sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya bisa saya bayangkan. Taman Nasional Farragut memang merupakan bagian yang dihuni suku-suku Indian (native American). Acara-acara Jambore itu juga membuat saya menghidupkan khayal tentang Winnetou. Misalnya, kegiatan api unggun di malam hari disebut pow wow – sekalipun tidak ada pipa perdamaian diedarkan. Ketika menjadi Public Relations Director di Anjungan Indonesia pada Expo 1986 di Vancouver, saya sempat mengunjungi anjungan General Motors. Di arena, setiap dua jam dipertunjukkan satu acara yang sangat menarik. Seorang Indian menyeret kano ke dalam danau, lalu mengayuhnya. Dengan bantuan teknik holografi, ditampilkan seolah-olah dengan sekali kayuh ia telah mencapai satu titik tujuan yang penuh kebahagiaan. Pertunjukan ini memang mengikuti mitologi Indian. Konon, di masa lalu, dengan mengisap asap dari satu jenis tumbuhan yang dikeringkan dan dikeringkan, orang Indian cukup menutup matanya dan mengatakan dalam hati ke mana ia hendak pergi. Dan ke sanalah ia akan tiba. Itu pulalah yang menjadi visi General Motors. Di masa depan, orang yang naik mobil General Motors mungkin tidak perlu beli bensin dan lelah mengemudi untuk bisa mencapai titik tujuannya. Senyampang mendekati Thanksgiving Day yang di Amerika Serikat dirayakan pada hari Kamis terakhir bulan November, saya juga ingin mengingatkan bahwa tradisi ini juga berasal dari tradisi Indian. Para misionaris yang melakukan outreach terhadap suku-suku Indian rupanya tertarik dengan Corn Dance yang dilakukan kaum Indian pada saat mulai menanam jagung dan mohon izin Tuhan agar panennya nanti akan berhasil. Bagi kaum Indian, menari adalah ritual, bukan hiburan (entertainment). Pada beberapa keluarga Amerika, hingga sekarang seorang ibu akan membagi bulir-bulir jagung mentah kepada semua yang hadir pada makan malam Thanksgiving. Bulir jagung itu dibagikan sebelum berdoa bersama yang didahului dengan meditasi senyap agar masing-masing dapat mengucapkan terima kasihnya dan mohon berkah untuk hari-hari berikutnya. Sungguh, masih banyak lagi kearifan yang dapat kita pelajari dari saudara-saudara kita suku Indian. Mari bergabung dalam situs para sahabat perdamaian ini agar kita dapat berkontribusi semampu masing-masing untuk menciptakan perdamaian dunia yang kita dambakan. Kapan-kapan kita bisa ber-pow wow juga, ‘kan? Bintaro, 7 Oktober 2000
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|
