Ketika Jagoan Harus Kalah  E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 20 January 2010

Entah sudah berapa kali saya baca, bahwa kritik terbesar terhadap karya Karl May adalah si jagoannya yang menang melulu. Tapi benarkah demikian? Kalau Anda baca  baik-baik, dalam setiap buku, si jagoan selalu saja berbuat kesalahan, ditangkap, dilecehkan, dihina. Tetapi, dengan upayanya, akhirnya bisa bebas. Lantas bagaimana penjelasan dari si pengarang sendiri?

Berikut, teaser dari otobiografi Karl May: Kehidupan dan Upayaku (1910). Saya sudah baca inggrisnya, nyaris sepuluh tahun yang lalu, sudah lupa :-). Tapi ketika mengedit terjemahan indonesianya ini (oleh pak Hersutejo, usianya sudah 65 tahun, lebih mungkin), waduh keren amat ya. Tanpa perlu baca Winnetou pun sudah akan terkagum-kagum dengan "pembelaan" si Karel ini. Ini catatan yang baik bagi mereka  yang ingin menjadi penulis kayak Karl May.

ogh/gono

====

Dengan begitu aku paham, kepada masyarakat umum dan generasi muda haruslah tidak diberikan buku-buku yang penuh dengan teladan kebajikan. Sebabnya sederhana, karena tidak seorang  manusia pun bisa menjadi teladan semacam itu.
Para pembaca menghendaki kebenaran, menginginkan kehidupan sebenarnya. Orang tidak menyukai kebajikan yang tidak ada, yang hanya ada di negeri antah-berantah, tanpa darah dan daging, yang diberi baju bagus dengan nama "petunjuk moralitas" yang indah, tak lebih.

Tugas seorang penulis bagi pembaca muda bukanlah menciptakan tokoh yang selalu bertindak luar biasa tanpa cela dalam segala cuaca yang akan membosankan pembaca. Seorang penulis perlu memberikan kesempatan tokohnya berbuat salah dan menjadi tolol, sesuatu agar tidak dilakukan oleh para pembaca muda itu.

Hal semacam itu seribu kali lebih baik, membiarkan tokoh fiksinya hancur, daripada membiarkan anak yang tidak puas mengoper kejahatan yang tidak kunjung muncul dalam cerita, lalu membawanya ke dalam kehidupan sebenarnya. Itulah inti persoalan yang patut diperhatikan sastra untuk orang muda dan pembaca umum. Tokoh anak dan orang dewasa sebagai model yang buruk, mereka tolak. Tunjukkan segi negatifnya, tapi dalam kerangka kebenaran kehidupan yang menggetarkan, kalian akan mencapai sesuatu yang positif.

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Next >