Login Form
Who's Online
We have 8 guests onlinePopular
Statistics
Visitors: 475059| Ketika Jagoan Harus Kalah |
| Written by Administrator | ||||||
| Wednesday, 20 January 2010 | ||||||
|
Entah sudah berapa kali saya baca, bahwa kritik terbesar terhadap karya Karl May adalah si jagoannya yang menang melulu. Tapi benarkah demikian? Kalau Anda baca baik-baik, dalam setiap buku, si jagoan selalu saja berbuat kesalahan, ditangkap, dilecehkan, dihina. Tetapi, dengan upayanya, akhirnya bisa bebas. Lantas bagaimana penjelasan dari si pengarang sendiri? Berikut, teaser dari otobiografi Karl May: Kehidupan dan Upayaku (1910). Saya sudah baca inggrisnya, nyaris sepuluh tahun yang lalu, sudah lupa :-). Tapi ketika mengedit terjemahan indonesianya ini (oleh pak Hersutejo, usianya sudah 65 tahun, lebih mungkin), waduh keren amat ya. Tanpa perlu baca Winnetou pun sudah akan terkagum-kagum dengan "pembelaan" si Karel ini. Ini catatan yang baik bagi mereka yang ingin menjadi penulis kayak Karl May. Tugas seorang penulis bagi pembaca muda bukanlah menciptakan tokoh yang selalu bertindak luar biasa tanpa cela dalam segala cuaca yang akan membosankan pembaca. Seorang penulis perlu memberikan kesempatan tokohnya berbuat salah dan menjadi tolol, sesuatu agar tidak dilakukan oleh para pembaca muda itu. Hal semacam itu seribu kali lebih baik, membiarkan tokoh fiksinya hancur, daripada membiarkan anak yang tidak puas mengoper kejahatan yang tidak kunjung muncul dalam cerita, lalu membawanya ke dalam kehidupan sebenarnya. Itulah inti persoalan yang patut diperhatikan sastra untuk orang muda dan pembaca umum. Tokoh anak dan orang dewasa sebagai model yang buruk, mereka tolak. Tunjukkan segi negatifnya, tapi dalam kerangka kebenaran kehidupan yang menggetarkan, kalian akan mencapai sesuatu yang positif.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Next > |
|---|
