Mencari Kearifan Masa Lalu - (Emil Salim)  E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 17 December 2003
Di Lahat, sebuah kota kecil di pinggir sungai Lematang, Sumatera Selatan saya masuk sekolah dasar. Di sekeliling kota masih tumbuh hutan lebat. Dan pohon duren tumbuh bebas di pinggir jalan dan dalam hutan. Tiap kali sehabis hujan deras dengan angin kencang, bersama teman-teman kami masuk hutan mencari buah duren yang banyak berjatuhan ditimpa angin. Pada tiap hari Sabtu guru kelas saya di Sekolah Dasar suka mengajak murid-muridnya berjalan-jalan masuk hutan, di kaki bukit Serelo yang tersohor di daerah. Sambil berjalan di hutan, guru menjelaskan berbagai peranan pacet penghisap darah manusia, yang rupanya juga berguna bagi manusia sebagai penunjuk arah matahari karena sifat kepala pacet selalu mencari kehangatan. Dan dengan mengetahui letak arah matahari, sekaligus kita memiliki kompas alami penunjuk jurus Utara-Timur-Barat-Selatan. Guru juga mengajak muridnya belajar "minum madu" dari sejenis bunga sebagai pengganti air bila kita tersesat. Dan mencari sisa makanan beruk di tanah untuk memperoleh petunjuk jenis buah mana bisa dimakan manusia. Karena apa yang bisa dimakan monyet dapat pula dimakan manusia. Dan sambil bertualang guru bercerita tentang hutan sehingga dalam alam fikiran saya hutan itu menjadi buku pembuka rahasia alam.

Secara selang seling pada hari-hari Sabtu berikutnya guru membacakan buku pada jam pelajaran terakhir. Guru pandai membawakan suaranya sehingga pelaku dalam buku terasa hidup. Guru suka membacakan isi buku Karl May menceritakan petualangan Old Shatterhand dengan kawan karibnya Winnetou, kepala Suku Appachen. Tetapi guru saya ini cerdik. Ia mengambil adegan dalam bab yang mengasyikkan dan seru. Pada sa''at cerita mencapai klimaksnya dan Winnetou tertembak lalu guru berhenti membaca dan mempersilahkan kita membaca sendiri. Bisalah dibayangkan bahwa kita berebutan mencari buku, tidak saja dalam perpustakaan sekolah tetapi juga di toko-toko buku.

Akibat pengaruh gurulah saya menjadi "kutu buku" membaca semua buku karangan Karl May dan mengenal tokoh-tokoh Old Shatterhand, Winnetou, Kara-ben-Nemsi dan lain-lain. Lalu bersama teman-teman di waktu libur kita menjelajahi hutan di sekitar Bukit Serelo dan sepanjang sungai Lematang untuk berlaku-gaya sebagai Old Shatterhand. Daging semur dari dapur kita bungkus untuk dipanggang di hutan meniru gaya para Indian membakar daging. Kami bikin tanda-tanda sepanjang jalan yang dilalui agar tidak sesat di hutan nanti.

Kami mencoba menghidupi daya khayal cerita bacaan menjadi kenyataan. Dan hidup terasa begitu tenteram mengasyikkan. Karena benang merah yang ditonjolkan dalam buku-buku Karl May adalah "kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan."

Setelah selesai saya membaca buku "Kematian Winnetou" saya termenung dan air mata meleleh. Alangkah agungnya pribadi Winnetou, kepala suku Indian Appachen ini.

Puluhan tahun kemudian, ketika saya ditugaskan mengembangkan lingkungan hidup di tanah-air, ingatan pada cerita Karl May bangkit kembali. Hutan tidak lagi dilihat sebagai obyek pengusaha HPH, tetapi sebagai "rumah besar" bagi segala makhluk yang hidup. Maka terbayang di mata saya peranan pacet, bunga pemberi madu, monyet dll. Terpampanglah keterkaitan antara hubungan manusia dengan hutan sebagaimana tergambarkan pada besarnya peranan hutan bagi Winnetou dan suku Apachennya.

Tapi hidup di abad "modern" telah "memakan" hutan alami untuk disubstitusi dengan "hutan buatan manusia." Namun bisakah "hutan buatan manusia" ini masih menumbuhkan keterkaitan akrab antara manusia dengan alam-buatan ini? Akan mungkinkah "kedamaian, keihlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan" ini ditumbuhkan dalam hutan buatan manusia? Akan mungkinkah tumbuh sosok tubuh seperti Winnetou yang mempersonifikasikan berbagai ciri-ciri kehidupan asri ini?

Dalam bergelut dengan tantangan permasalahan ini, ingatan saya kembali pada "dunia alamnya" Old Shatterhand, Winnetou dan Kara-ben-Nemsi. Mencari kearifan di masa lalu untuk bekal menanggapi tantangan masa depan.

Emil Salim
(15 September 2000)
Comments
Search
early  - top banget...     |125.164.129.xxx |2008-07-21 14:41:09
Pak Emil, sungguh cerita yang penuh inspirasi:) duh...penginnya mengalami
petualangan di hutan lagi....dan pasti inget Old Shatterhand dan Winnetou lagi
nih. howgh!
changlidi   |202.158.20.xxx |2008-07-25 13:27:25
yuukk...kapan2 kemping or hiking bareng??
Tabroni  - pencari hutan     |202.6.234.xxx |2008-09-10 07:35:46
Saya sedih, kalau memikirkan yang lalu. Kini di kampung saya (kawasan Cikarang)
mencari kumpulan pohon sulitnya setengah mati. Orang kampung hanya tahu menebang
untuk uang, rumah bahkan kayu bakar. Kalau saya menanami lahan sendiri dengan
pohon agar lebih hijau, mereka cenderung mencibirkan usaha ini. Saya pikir
Pemkab harus punya program nyata tentang hutan, ya.
abet  - sedih.......   |125.167.96.xxx |2008-10-16 21:00:15
wah cerita yang mengharukan.....
ternyata karlmay mengajarkan banyak hal kepada
kita
Amekae  - Mencari Kearifan Masa Lalu   |125.167.98.xxx |2009-03-09 12:38:58
Luar biasa. Pak Emil mengingatkan kita pada masa lalu dengan segala kearifannya.
Saya baca buku-buku Karlmay di SMP Ndao Ende. Yah Ende tempat Bung Karno pernah
di buang Belanda pada tahun 1933. Sama seperti remaja lain saya juga sangat
terpengaruh dengan kehebatan Old Shaterhand dan persahabatannya dengan Winnetou
dan cerita tentang rasa damai setelah isap pipa perdamaian. Tidak perlu kan
bayar jasa mediator
Only registered users can write comments!

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Prev   Next >