|
Sejak kecil, cerita petualangan Dr.Karl May telah menjadi bacaan kesukaan saya. Cara berceritanya sendiri sebenarnya biasa-biasa saja. Hanya berupa kisah naratif soal petualangan seorang Jerman di Wild Wild West benua Amerika dan padang pasir Arabia. Namun, buku si May itu tampaknya memiliki roh. Terbukti, ketika saya membacanya, saya pun selalu merasa seperti berada di alam nyata dan ikut terlibat dalam romantika petualangan yang diceritakannya.
Entahlah, apa penyebabnya sehingga saya sampai bisa terhanyut seperti itu, saya sendiri tidak tahu. Mungkin karena cara bercerita Dr May, selaku pengarangnya, memang khas. Yang jelas, karena kepiawaiannya bercerita, tadinya, bahkan hingga bertahun-tahun lamanya, saya menganggap kisah petualangan Dr Karl May itu nyata, bukan fiksi. Sampai kemudian saya menemukan satu fakta, ternyata kisah petualangannya itu memang cuma fiksi. Katanya, menurut keterangan yang saya dapatkan di suatu koran, ternyata yang mempunyai cerita sendiri sama sekali tak pernah melakukan petualangan seru seperti dituturkan dalam setiap bukunya.
Bohong, memang. Namun, anehnya, sampai sekarang saya tetap menyukai cerita si May itu. Barangkali kebohongan yang dilakukannya itu tidak membuat pembacanya kecewa. Sebaliknya, malah telah membuat batin merasa terhibur dan bertambah kaya. Selain itu, kami semua malah kian dibuat penasaran, sampai sejauh mana sih si May itu akan terus membohongi kita?
Lain dengan kebohongan kita. Selama ini selalu saja kebohongan kita mengecewakan orang lain. Celakanya, penyakit bohong kita tak pernah bisa kita keluarkan dari tubuh kita. Malah agaknya telah menjadi penyakit yang takkan pernah bisa tersembuhkan. Terbukti, kian hari kita malah sering melakukannya. Bahkan hampir setiap waktu kita semua selalu melakukannya.
Karena kebohongan-kebohongan yang selalu kita lakukan, persoalan pun akhirnya banyak bermunculan. Kewibawaan para pejabat negara menjadi begitu rendah di mata rakyat. Kebohongan pun telah membuat di antara suami-istri tak ada lagi saling percaya. Demikian pula pepatah orang tua tidak lagi dindahkan anak-anaknya, karena selama ini wejangannya itu memang haya sebatas ucap tanpa ada contoh nyata dari pribadi mereka. Kalau ingin berbohong, sepertinya cara berbohong seperti Dr May di atas bisa kita lakukan.
Aat Suwatno Jalan Raya Cihaurbeuti Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis.
Dikutip dari: Koran Tempo, Selasa, 22 Feb 2008 Rubrik: Surat Pembaca
|