Pengaruh Karya-karya Karl May Terhadap Pembentukan Kepribadian Pembaca  E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 16 January 2008
Article Index
Pengaruh Karya-karya Karl May Terhadap Pembentukan Kepribadian Pembaca
Page 2
Page 3
Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd dari Universitas Negeri Malang membuat makalah menarik mengenai pengaruh Karl May terhadap perkembangan pribadi pembacanya, disajikan dalam seminar yang diadakan siswa-siswa SMAK St. Albertus, Malang.


Pengaruh Karya-karya Karl May Terhadap Pembentukan Kepribadian Pembaca

1. Apresiasi Sastra sebagai Medium Pembentukan Kepribadian

Pembelajaran apresiasi sastra menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi menggariskan agar siswa mencapai standar kompetensi apresiasi sastra, meliputi lima standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu: (1) mampu mendengarkan dan memahami beragam wacana lisan; (2)  mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, dan gagasan, dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan,  pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan; dan (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra.

Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bertujuan memberikan pengalaman apresiasi sastra melalui berbagai konteks komunikasi.  Di dalam teori dasar pembelajaran berdasarkan pengalaman, Kolb (1984) mengembangkan teori pengalaman belajar yang ide dasarnya bertumpu pada pengertian "pengalaman + refleksi" kemudian dikembangkan menjadi 4 (empat) modus belajar, yaitu: pengalaman kongkret, pengamatan reflektif, konseptualisasi abstrak, dan pencobaan secara aktif. Menurut Ur (1996), agar bisa terjadi pembelajaran yang optimal, pengetahuan yang diperoleh dalam setiap modus haruslah diikuti oleh modus yang lain secara berurutan, sehingga penerapannya akan berbentuk siklus yang bersifat rekursif.  

Bagi pembelajaran sastra, model pembelajaran berdasarkan pengalaman Kolb di atas memberikan beberapa keuntungan (Ur, 1996:201) yakni: (1)  sastra dapat dibaca dengan menyenangkan, (2) pengajaran sastra dapat memberikan contoh berbagai macam gaya menulis dan memberi contoh berbagai macam gaya penyampaian dari bermacam-macam penggunaan bahasa dalam konteks yang sesungguhnya, (3) pengajaran sastra merupakan dasar yang baik bagi pengembangan kosakata, (4) pengajaran sastra membantu pengembangan kemampuan membaca, (5) pengajaran sastra dapat memberikan butir-butir penting yang bisa digunakan sebagai pemacu atau titik tolak dalam penulisan atau diskusi, (6) pengajaran sastra dapat menuntun perkembangan emosi sebagaimana mengembangkan intelektualitas, yang akan menambah motivasi dan mungkin memberikan tambahan-tambahan yang amat berarti bagi pengembangan diri sendiri, (7) pengajaran sastra merupakan sebuah bagian pengajaran budaya yang ditujukan dan mempunyai nilai-nilai penting yang akan disampaikan sebagai bagian dari pendidikan umum kemanusiaan/ pengetahuan populer bagi para siswa, (8) pengajaran sastra dapat memberikan semangat pada ketegasan, kekritisan, dan pemikiran kreatif; (9) pengajaran sastra dapat memberikan tambahan yang berarti bagi pengetahuan dunia; dan (10)  pengajaran sastra akan meningkatkan kesadaran mengenai bermacam kondisi dan pertentangan antarmanusia.

Teks sastra yang dipilih sangat berpengaruh pada proses dan hasil belajar apresiasisastra. Theodore Clymer (dalam Ginn, 1988) menganjurkan sepuluh hal yang perlu diingat  dalam pemilihan karya sastra sebagai sasaran bacaan, terutama jika karya sastra tersebut akan digunakan sebagai bahan pelajaran. Kesepuluh hal tersebut, yaitu: (1) pilihlah karya sastra yang menyentuh hati, (2) pilihlah karya sastra yang dapat membantu siswa memperoleh sesuatu yang berharga dan bernilai bagi dirinya, (3) pilihlah bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan mental-emosi, (4) pilihlah bacaan yang dapat memberi stimuli untuk berpikir dan berimajinasi, (5) pilihlah karya sastra yang berisi pesan-pesan penting yang dapat membuka wawasan baru bagi kehidupan, sehingga bacaan itu dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman kehidupan, (6) pilihlah berbagai jenis karya sastra, misalnya cerita rakyat, drama, prosa fiksi, esai, (7) pilihlah karya sastra yang dapat membantu memperoleh pengetahuan dan pengalaman besar, misalnya pengetahuan tentang penemuan besar dari tokoh dunia, (8) sediakan informasi yang berfungsi untuk mengenali pengarang dan karya sastra yang menjadi sasaran bacaan, (9) pilihlah karya sastra yang memberi kesempatan untuk mengenal budaya, dan (10) pilihlah karya sastra yang mampu menumbuhkan kegemaran untuk menulis.  

Bertolak dari beberapa pikiran di atas, apresiasi sastra dimaknai sebagai kegiatan mengenal, memahami, menghayati, menikmati, karya sastra. Kegiatan apresiasi dilakukan secara subjektif untuk memperoleh nilai-nilai kebaikan, keindahan, kemuliaan. Dengan nilai-nilai tersebut, diharapkan pembaca sastra dapat memperluas wawasan kehidupan, mengembangkan kepribadian, meningkatkan pengetahuan, mendapatkan hiburan melalui aktivitas pembelajaran yang berlangsung di dalam dan di luar kelas, baik secara perorangan maupun  berkelompok, dengan atau tanpa bimbingan guru.

2. Kegiatan Membaca Kritis Karya Sastra

Seorang pembaca yang matang tidak hanya sekedar mencari hiburan yang bersifat sementara. Ia akan berusaha untuk memperoleh hal-hal yang bermanfaat untuk mengisi lembaran hidupnya dengan pengalaman orang lain yang diperolehnya dari membaca. Pembaca yang demikian yakin akan kebenaran pernyataan kuno, bahwa pengalaman yang diperoleh ratusan tahun oleh pendahulu kita dapat kita peroleh dalam waktu singkat melalui kegiatan membaca. Kebenaran pernyataan ini telah dibuktikan oleh Karl May yang telah menggebrak dunia dengan karya-karyanya. Pernyataan yang merupakan buah pikiran  generasi sebelum kita dapat kita pelajari dan pahami melalui bacaan, meskipun kita tidak hidup sezaman dengannya.

Agar seseorang dapat membaca dengan baik, telah banyak ahli membaca yang mengembangkan teknik-teknik membaca, misalnya, langkah-langkah membaca kritis dari Axelrod dan Cooper (1990:2) berikut:

1. Melakukan pembacaan awal (preview): mencari hal-hal yang bermanfaat secara cepat sebelum membaca secara mendalam;
2. Membuat catatan (annotating): memberikan tanda atau catatan pendek terhadap bagian-bagian yang dianggap perlu mendapat perhatian khusus atau pemikiran lebih lanjut pada kesempatan lain.
3. Membuat garis besar isi dari bacaan yang dibaca secara global;
4. Membuat ringkasan atau garis besar isi bacaan ditulis dengan menggunakan kalimat sendiri.
5. Mencari hal-hal khusus yang perlu mendapatkan perhatian istimewa;
6. Menganalisis kekuatan argumen dari teks yang digunakan oleh pengarang untuk meyakinkan pembaca;
7. Mengidentifikasi ciri dasar bacaan seperti pemilihan huruf, peletakan bagian-bagian tertentu tulisan  seperti teknik penulisan nomor halaman, catatan kaki, ilustrasi gambar, atau catatan pinggir;
8. Melakukan perbandingan atau kontras dengan bacaan sejenis untuk memperoleh keunggulan sebuah sumber; dan
9. Mengembangkan pendapat atau hasil pemikiran sendiri dengan bertitik tolak dari ide atau pemikiran yang diperoleh dari bahan bacaan sebelumnya.

Jika kesembilan langkah di atas diikuti secara bertahap dari awal sampai akhir, maka di samping seseorang menangkap secara global isi bacaan, ia juga akan terbiasa melatih kemampuan berpikirnya untuk menghasilkan pikiran-pikiran atau karya baru.




 
< Prev   Next >