Karl Friedrich May  E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 17 December 2003
Article Index
Karl Friedrich May
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11

 1842
Karl May lahir pada hari Jumat, 25 Februari 1842 pukul 10 malam, dan dibaptis keesokan harinya di Gereja Lutheran-Pengabar-Injil St. Trinity [St. Trinitatis] di Ernstthal. Dia adalah anak kelima dari Heinrich August May, seorang penenun berusia 32 tahun, dan istrinya Christiane Wilhelmine Weise, 27 tahun. Rumah tangga keluarga May mengalami kesengsaraan yang hebat —kemelaratan, bahkan seringkali kelaparan. Dari empat orang kakak perempuannya, hanya yang berusia empat tahun, Auguste Wilhelmine, yang masih hidup.

Pada tahun ini terjadi “musim panas yang amat kering dan panas. Hujan tidak turun sejak musim tanam sampai enam-tujuh minggu berikutnya dan hampir sepanjang musim panas itu tak ada tanda-tanda hujan. Dampak kurangnya air begitu jelas sehingga sebagian besar gandum tak dapat digiling dan akibatnya harus ditebas… Peternakan luar biasa menderita dan sebagian besar ternak menjadi kurus dan lemah dan harus disembelih…”

(Keterangan gambar: Tampak depan dari rumah kelahiran di Hohenstein-Ernstthal tahun 1910. Di  1983  dipugar, dan pada 12 Maret 1985 dibuka dan  dijadikan Museum. Di sini buku edisi Pradnyaparamita juga ikut dipamerkan.  Museum yang satu lagi di Radebeul dekat Dresden, yaitu Villa Shatterhand  yang tersohor itu.)

1843
Karena “kurangnya ternak yang layak disembelih, harga daging pun meningkat amat tinggi.”

Situasi “kesengsaraan keluarga penenun” ini dapat dibandingkan dengan keadaan di negara-negara sedang berkembang sekarang ini—kondisi ideal untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kurangnya vitamin dan oleh infeksi; inilah juga yang akan menjadi takdir Karl May.

1844
28 Mei: Adik Karl May, Christiane Wilhelmine, yang kemudian menjadi Ny. Schöne, lahir. Di Hohenstein dan Ernstthal kelaparan dahsyat masih melanda:

Benar ada beberapa kasus yang terjadi di sini, bahwa orang-orang, yang malu untuk mengemis, sungguh-sungguh mati karena kelaparan. Karena bukanlah hal yang jarang terjadi, khususnya dalam keluarga dengan banyak anak, bahwa seringkali selama beberapa hari tak ada bahkan sepotong roti pun untuk dimakan, dan sedikit kentang yang dimasak bersama kulitnya dan dimakan dengan garam seringkali merupakan satu-satunya makanan mereka yang kurang beruntung itu. Tapi hampir di banyak keluarga, kentang juga menghilang, atau semakin berkurang, dan demikianlah penderitaan karena kelaparan, dan tindakan meminta-minta, jadi tak terhindarkan… Sungguh memilukan hati melihat orang-orang kurang beruntung yang mengenaskan itu, dengan wajah pucat dan cekung, dengan mata sayu yang sarat beban, yang sudah tidak lagi memancarkan kehidupan… menyeret diri mereka seperti bayang-bayang…

Nampaknya kekurangan vitamin A adalah sebab utama terganggunya penglihatan Karl May —(buta dalam kondisi pencahayaan yang kurang, hemeralopia). Sejak saat itu, dia menderita cacat visual yang parah—dimulainya Xerophthalmia menyerang penglihatannya.

1845
Kondisi Karl May semakin buruk: kelopak matanya tertutup dan bengkak (Blepharitis), diikuti dengan radang. Dia tidak dapat membuka matanya selama waktu yang cukup panjang. Karena itu dia menjadi buta dan lupa untuk melihat. Kemudian dia juga tidak dapat lagi mengingat kesan-kesan visual yang pernah didapatnya dulu. Dokter yang baik tidak terjangkau oleh kondisi keuangan keluarga, dan pada saat itu asuransi kesehatan belum lagi ada. Dalam autobiografinya,
Mein Leben und Streben [My Life and Aspirations], May menggugat ‘perdukunan yang membinasakan’ yang dirasanya telah menjadikannya korban. Kemungkinan besar kelopak matanya yang tertutup telah diobati secara tidak efektif dengan salep mata dan diperban: usaha mencari peluang sekecil apa pun untuk melihat meskipun hanya sebentar, dengan cara demikian sama sekali tidak dapat dilakukan.

Aku dapat merasakan orang-orang dan benda-benda, mendengar, dan mencium bau-bauan dengan mudah; namun itu tidak cukup untuk membayangkan bagaimana rupa dan bentuk mereka. Aku hanya dapat menerka. Seperti apa seseorang, seekor anjing, sebuah meja terlihat, aku tidak tahu; aku hanya dapat membuat gambaran tentang rupa dalam mereka, dan gambaran itu tetap ada dalam benakku. Ketika seseorang berbicara, aku bukan mendengarkan tubuhnya tetapi jiwanya. Bukan bentuk luarnya, tapi isi dalamnyalah yang menghampiriku.

Karl berada dalam perawatan telaten neneknya dari pihak ayah, Johanne Christiane May. Beliau meninggalkan kesan mendalam terhadap cara berpikir dan dunia anak lelaki yang penuh gairah ini dengan dongeng-dongengnya yang memesona. Bulan-bulan berikutnya menjadi sumber bagi daya khayal May yang amat kaya.

Pindah ke rumah Carl August Knobloch, seorang penenun.

Pada 15 Agustus ibu May mulai mengikuti kursus perbidanan yang akan berlangsung selama enam bulan.

1846
13 Februari: Ibu May menjalani ujian di Akademi Bedah (Kurländer Palais) di Dresden dengan hasil “lulus dengan memuaskan”. Mata putranya yang buta juga dirawat dengan baik di sana oleh Profesor Haase dan Grenser—Karl May belajar untuk melihat.

Bagiku yang ada hanya jiwa, tak ada yang lain selain jiwa. Dan tetap demikian, bahkan setelah aku belajar untuk melihat, sejak masa mudaku sampai hari ini. Inilah yang membedakan aku dengan yang lain. Inilah kunci dari buku-bukuku. Inilah penjelasan bagi segala yang patut dipuji dan segala yang patut disalahkan dalam diriku. Hanya orang yang pernah buta dan mendapatkan penglihatannya kembali, dan hanya orang yang memiliki dasar yang kokoh dan dunia batin yang luar biasa seperti itu sehingga ia kemudian, setelah dapat melihat kembali dan selama sisa hidupnya, menguasai dunia jasmaninya, hanya dialah yang dapat memihak pada segala yang kurencanakan, yang telah kulakukan dan yang telah kutulis, dan hanya dialah yang memiliki kemampuan untuk mengritikku, dan bukan yang lain!

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa di Dresden pulalah penyakit rakhitisnya, yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D, berhasil diobati. Tentang hal ini May menulis dalam autobiografinya:
Aku belajar melihat dan pulang, karena yang lain pun sembuh pula, ke rumah.

Tanggal 19 Maret ibu May dipekerjakan sebagai bidan oleh dewan kota Ernstthal.



 
< Prev